Semenjak itu, Martina mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga, sekaligus perawat bagi suami dan pengasuh bagi tiga cucunya. Usia yang kian renta membuat langkah Martina tak lagi sekuat dulu.
Namun keterbatasan fisik itu tak memberinya ruang untuk berhenti. Sebagai petani dan buruh tani ia tetap mengandalkan tenaga seadanya demi memastikan dapur tetap mengepul, meski kerap hanya dengan lauk sederhana dari upah harian Rp50.000 di kebun orang yang menjadi tumpuan hidup tak menentu.

Martina mengaku pernah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Langsung Tunai kesejahteraan sosial. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, bantuan tersebut tak lagi diterimanya. Ia juga hanya sekali membawa suaminya berobat ke puskesmas terdekat.
Keinginan membawa Herman ke rumah sakit kandas oleh biaya yang tak terjangkau, sehingga keterbatasan ekonomi membuat pengobatan lanjutan nyaris tak tersentuh. “Saya ingin suami sembuh, ingin bawa ke rumah sakit. Tapi saya tidak punya biaya,” tuturnya pelan, sambil mengusap air mata yang jatuh tanpa suara.
Di tengah himpitan hidup, Martina tetap menyimpan satu keyakinan: pendidikan cucu-cucunya tidak boleh terputus. Serin (13) kini duduk di bangku SMP, sementara Fio (10) dan Felisa (9) masih bersekolah di SD. Meski sering kesulitan membeli perlengkapan sekolah, Martina memilih bertahan. “Pendidikan itu yang paling penting. Supaya suatu hari mereka bisa punya hidup yang lebih baik,” katanya.












