Marwan yang saat ini menjabat Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian PBNU ini mencontohkan masalah pengangguran di Jawa Tengah yang semakin meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ada peningkatan pengangguran di Jawa tengah pada Februari 2017 secara absolut sebanyak 3.000 orang.
Menurutnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah perkotaan selalu lebih tinggi dari TPT wilayah pedesaan. TPT perkotaan sebesar 4,43 persen dan pedesaan 3,89 persen. Sedangkan untuk TPT Diploma 3 menempati posisi tertinggi 9,00 persen, disusul SMK 8,07 persen.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menyoroti masalah kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di Jawa Tengah yang masih menjadi persoalan serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah menempati peringkat tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Timur, sebanyak 4.493.750 jiwa. ”Belum lagi masalah nasib para petani yang semakin terpuruk,” katanya.
Keterpurukan petani di Jawa Tengah, lanjut Marwan terlihat dari penurunan nilai tukar petani (NTP). Pada awal April lalu melalui situs https://jateng.bps.go.id, BPS Jawa Tengah melansir data NTP provinsi pada Maret 2017 mengalami penurunan dari posisi 98,02 menjadi 97,50. Penurunan NTP terjadi karena perubahan indeks harga yang diterima petani lebih rendah dibandingkan dengan perubahan indeks harga yang dibayar petani. “Penurunan NTP secara langsung berdampak pada menurunnya kesejahteraan petani,” katanya.














