Dampaknya, membuat nilai utang luar negeri dalam rupiah menjadi terlalu rendah (undervalued) dari nilai fundamentalnya.
Di lain sisi, penguatan kurs rupiah secara semu membuat pendapatan per kapita dalam dolar AS menjadi terlalu tinggi, atau overvalued.
Sehingga, tanpa “rekayasa” kurs rupiah pertumbuhan pendapatan per kapita periode 2015-2019 sebenarnya sangat rendah, bahkan mungkin negatif.
Rekayasa kurs rupiah bagaikan bom waktu yang siap meledak setiap saat. Kebijakan moneter Bank Indonesia tersandera.
Suku bunga cenderung bertahan tinggi agar surat utang negara terlihat seksi. Mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, dan tidak kompetitif.
Defisit neraca transaksi berjalan akan semakin menggelembung, membuat ekonomi semakin tertekan.
Pada saatnya, kurs rupiah akan tergelincir dan mengalami koreksi tajam. Ketika itu ekonomi Indonesia akan mengalami kejutan, terperosok ke jurang resesi.
Inflasi meningkat tajam. Suku bunga pinjaman naik.
Apabila fundamental ekonomi Indonesia tidak segera diperbaiki, apabila ekonomi Indonesia terus dikelola secara artifisial dan penuh rekayasa keuangan, masa depan bangsa Indonesia dipastikan akan semakin suram. Menuju bangsa yang gagal.
Penulis adalah Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) di Jakarta














