“Bahaya sekali jika kebhinekaan ini lalu dibuang. Kita bisa bayangkan bagaimana anak-cucu kita nanti kalau kebhinekaan ini hilang. Mau tinggal di mana mereka? Kita berharap berbagai gerakan akhir-akhir ini yang coba memecahbelah bangsa dan ingin membuang kebhinekaan dapat segera diakhiri,” tutur mantan Ketua Badan Anggar (Banggar) DPR ini.
Menurutnya, warga NTT sudah diwarisi kehidupan dalam nuansa kebhinekaan.
Di NTT, ada berbagai macam suku, agama dan ras. Kesemuanya hidup rukurn dan tidak ada yang saling mempertentangkan.
“Warga diasporan NTT bertekad merawat kebhinekaan dan menjaga Indonesia dengan semangat 100 persen NTT dan 100 persen Indonesia. Kami memandang realitas kebhinekaan merupakan sarana untuk saling memahami, menerima, mengingatkan dan menolong satu sama lain,” ujarnya.
Dia menambahkan dalam perkembangan terkini, telah muncul kondisi yang berpotensi mengancam kebhinekaan.
Dari waktu ke waktu, bahkan dari hari ke hari, potensi sentimen sektarian tampak semakin mengkristal.
Hal ini dapat menjauhkan solidaritas kebangsaan diantara sesama anak bangsa.
“Kondisi ini, cepat atau lambat dapat mengacam dan membahayakan persatuan bangsa. Maka mari kita semua menjaga situasi sekarang agar tidak bertambah runyam. Nanti Indonesia ini bisa bubar,” tegasnya.













