Pembiayaan ritel dan non-ritel CFS tumbuh 14,5% menjadi Rp21,44 triliun. Pembiayaan non-ritel meningkat 18,8%, ditopang pertumbuhan segmen Business Banking sebesar 20,0%, SME+ sebesar 13,7%, dan RSME sebesar 19,5%. Pembiayaan ritel meningkat 9,9%, didukung pertumbuhan pembiayaan pemilikan rumah sebesar 9,6% dan pembiayaan otomotif sebesar 12,0%.
Giro dan Tabungan (CASA) Perbankan Syariah meningkat 15,6%, sedangkan Deposito Berjangka turun 18,2%, sejalan dengan strategi Bank untuk mengoptimalkan struktur pendanaan yang efisien. Simpanan nasabah tetap stabil sebesar Rp34,50 triliun, dan rasio CASA meningkat menjadi 60,0% pada Juni 2025 dari 51,5% pada Juni 2024.
Kualitas aset Perbankan Syariah tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Rasio Gross Non-Performing Financing/NPF (gross) tetap stabil sebesar 2,4% pada Juni 2025 dan 2024, sementara rasio NPF (net) membaik menjadi 1,6% pada Juni 2025 dari 1,8% pada Juni 2024.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan dalam siaran pers di Jakarta, Rabu 30 Juli 2025, mengatakan, Maybank Indonesia pada semester pertama 2025 mencatat peningkatan pada pendapatan top line.
Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang berkelanjutan pada segmen-segmen utama, sehingga turut mendorong pendapatan bunga yang lebih tinggi dan yield terhadap saldo kredit. Demikian juga, dengan pengelolaan biaya provisi secara pre-emptive tahun sebelumnya, telah memampukan Bank menyesuaikan level pencadangan dalam rentang risk tolerance yang ditetapkan.














