JAKARTA — Kinerja keuangan emiten produsen rokok, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tampak masih belum pulih. Buktinya, hingga semester I 2025, pendapatan dan laba GGRM kompak merosot signifikan. Padahal, di semester I tahun 2024, Perseroan juga mencatat penurunan laba sebesar 75,85% menjadi Rp925,51 miliar, dari Rp3,26 triliun per Juni 2023.
Dalam laporan keuangan per Juni 2025 yang diumumkan, Kamis (31/7/2025), terungkap, GGRM membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp117,16 miliar (Rp61 per saham) pada semester I 2025, anjlok 87,34% jika dibandingkan Rp925,51 miliar (Rp481 per saham) pada semester I 2024.
Penurunan laba perusahaan rokok (GGRM) tersebut antara lain disebabkan oleh pendapatan usaha Perseroan yang merosot sebesar 11,29% menjadi Rp44,36 triliun di semester I 2024, dari Rp50,02 triliun pada periode sama 2024.
Penjualan produk rokok di pasar lokal (sigaret kretek mesin, sigaret kretek tangan, rokok koblot, kertas karton dan lainnya) turun 11,04% jadi Rp43,81 triliun di semester I 2025, dari Rp49,25 triliun periode sama 2024. Adapun penjualan produk rokok yang sama di pasar ekspor juga turun 27,34% jadi Rp557,17 miliar.
Manajemen Perseroan mampu menekan turun beban pokok pendapatan sebesar 9,72%, dari Rp44,95 triliun semester I 2024, jadi Rp40,58 triliun di semester I 2025. Akan tetapi, laba kotor emiten produsen rokok tersebut justru terpangkas 25,26% jadi Rp3,78 triliun dibanding Rp5,06 triliun pada semester I tahun 2024.














