Karena itu, Megawati tidak ragu-ragu untuk memecat siapa pun kader PDI Perjuangan yang menurutnya “coba-coba bermanuver di luar garis partai dan bermain dua kaki”.
Tak hanya itu, tekanan lain dari pidato Megawati sengaja disampaikan tentang posisi Puan “sebagai anak tercintanya dan Puan mencintai ibunya”.
Pernyataan ini meskipun secara tersurat dalam konteks “trah” biologis Puan akan tetapi dalam konstruksi disampaikan dalam forum resmi setingkat Rakernas PDI Perjuangan yang sangat berwibawa dan dihadiri Presiden Jokowi jelas sebuah pernyataan berbobot politis dalam kerangka ideologi.
“Saya kira, ini sikap politik PDI Perjuangan,” tuturnya.
Dia menilai, pemaknaan pidato politik Megawati dalam pembukaan Rakernas PDI Perjuangan aktualisasinya dalam konteks Ganjar Pranowo tentu penting unuk segera mempertegas posisi politiknya atas dukungan para relawan terhadapnya yang berlangsung massif di berbagai daerah.
“Berhenti bermanuver hendak mendekte keputusan Megawati dalam hal menentukan Capres PDI Perjuangan. Karena dalam konteks inilah dugaan bahwa Ganjar Pranowo “bermain dua kaki” sebagaimana secara implisit dapat ditangkat dari pidato Megawati tersebut,” imbuhnya.
Dengan kata lain, spirit dari pidato Megawati dalam forum Rakernas tersebut hendak menegaskan bahwa kontestasi Pilpres 2024 bukan kontestasi elektoral ibarat “idol” – ajang mencari idola selebritis – melainkan sebuah pertaruhan ideologis bagi PDI Perjuangan dalam konteks transisi ideologis dari Megawati ke Puan Maharani.














