Sebelumnya, Ali mengungkapkan, sebesar 74,3 persen dari dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi, seperti menambah dan memperluas sarana produksi.
Sedangkan sisanya sebesar 25,7 persen untuk modal kerja perseroan, terutama untuk pembelian bahan baku pada feedmill dan ayam broiler komersial untuk slaughterhouse.
“Langkah IPO ini menjadi pintu gerbang menuju pasar yang lebih dinamis. Kendati kondisi pasar saham masih menantang di tengah kondisi pandemi Covid-19,” ucap Ali di Jakarta, Selasa (2/2).
Dia menyebutkan, proporsi investor yang menyerap saham WMUU saat penawaran umum adalah investor institusi sebanyak 69,5 persen dan ritel 30,5 persen.
Lebih lanjut Ali mengatakan, WMUU sebagai emiten yang bergerak di sektor perunggasan (poultry) juga berencana menerbitkan obligasi korporasi di pengujung tahun ini, sejalan dengan konsentrasi perseroan untuk melebarkan sayap bisnis di 2022.
Pada 2021, kata Ali, WMUU mengalokasikan dana investasi sebesar Rp1,5 triliun untuk menambah kapasitas produksi ayam broiler sebanyak 6,4 juta ekor melalui dua tahap.
Pada tahun ini, perseroan juga berencana menaikkan kapasitas pemotongan unggas di rumah potong hewan menjadi 25.500 ekor per jam.
Dengan demikian, Ali memperkirakan bahwa penjualan WMUU di 2021 akan bertumbuh sebesar 436 persen dan laba bersih akan meningkat 259 persen dibanding raihan di 2020.












