Dengan demikian kita mendapat keuntungan yang lebih cepat daripada menunggu pembahasan 2019 yang membuat kita bisa kehilangan keuntungan selama minimal 5 tahun kedepan.
Smelter juga paling cepat dibangun 2022 bila negosiasi mulai dilakukan 2019, dan ini kerugian besar bagi kita karena nasionalisme abal abal. Negosiasi sekarang juga sangat penting memberikan kepastian bagi Indonesia dan Freeport.
Jika Freeport menolak point-point negosiasi kita maka kita berikan kepastian bagi Freeport bahwa operasinya nerakhir pada 2021. Dengan demikian kita punya waktu yang cukup menyiapkan diri mengelola Freeport, dan Freeport punya waktu yang cukup untuk mengakhiri kontraknya dan keluar dari Indonesia, sehingga waktu jeda tanpa operasi bisa kita minimalkan andai kontrak benar-benar berakhir pada 2021.
Tulisan ini untuk membawa kita pada objektifitas berpikir dan menyikapi kontrak Freeport dan tidak perlu sok pahlawan atau sok garang padahal sesungguhnya pengecut. Jika memang pemerintah berani kepada Freeport, hentikan segera ijin ekspor konsentrat sesuai UU Minerba, itu baru nasionalisme sejati.
Penulis adalah Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) di Jakarta














