Pilihan-pilihan jihad simpatisan ISIS di Indonesia inilah yang menjadi dasar utama terjadinya aksi-aksi teror di Indonesia beberapa tahun terakhir ini terutama yang diketahui mempunyai keterkaitan dengan kelompok radikal trans nasional ISIS. Motif ideologi yang sangat kuat karena telah terpapar paham radikal dari ISIS menjadi alasan utama para pelaku tersebut melakukan hijrah ke Suriah, melakukan aksi teror di negaranya sendiri (Indonesia), atau menyumbang dana bagi aksi teror yang dilakukan oleh orang lain.
Tidak ada bukti bahwa aksi teror yang tejadi adalah hasil rekasaya, dan tentunya tidak ada orang yang mau mengorbankan nyawanya hanya karena motif untuk menjalankan rekayasa. Tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa aksi teror di Indonesia adalah rekayasa terbantahkan dengan fakta-fakta yang ada.
Dalam semangat negara untuk melakukan perang terhadap terorisme, tuduhan bahwa aksi teror adalah rekayasa, bahkan dianggap sebagai skenario politik yang dihubungkan dengan Pilres, merupakan suatu langkah kontraproduktif. Hal ini diduga merupakan sebuah upaya untuk menjatuhkan pemerintah, terutama di mata pendukung kelompok oposisi.
Tentu saja hal tersebut dapat ditindak dengan tegas oleh aparat penegak hukum mengingat tuduhan tanpa bukti tersebut bisa menyebabkan pemberantasan terorisme menjadi terganggu. Selain itu, tuduhan-tuduhan tersebut juga merupakan suatu upaya penyebaran kebohongan yang dapat berimplikasi kepada tindakan hukum.
Penulis adalah Pengamat terorisme alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (UI) di Jakarta













