Jika seorang pegawai pengadilan mendepositokan 500 yuan (setara dengan US$ 63) setiap tahun dan tidak melakukan hal-hal yang ilegal, maka pegawai tersebut akan mendapatkan 300,000 yuan (setara dengan US$ 37,600) saat dia pensiun – angka ini sudah termasuk premium dan reward yang diterima pegawai tersebut.
Dengan “anti-corruption deposit” ini memberikan jaminan hari tua bagi pegawai pengadilan tersebut, tanpa terlibat kejahatan korupsi. Sebaliknya yang terjadi jika korupsi.
Apa yang terjadi dalam sistem peradilan Cina dibawah pimpinan Xiao memberikan satu pelajaran penting bagi kita, yakni bahwa pemberantasan korupsi yudisial itu harus dimulai dari pembersihan institusi-institusi penegakan hukum dari polisi, jaksa, hakim yang korup.
Untuk itu diperlukan pemimpin yang bersih dan jujur yang memiliki komitmen, tekad, dan keberanian untuk membasmi para penegak hukum yang korup. Tidak hanya sebatas kata-kata, wacana dan jargon saja, tetapi dalam tindakan-tindakan nyata.
Tindakan pembasmian ini harus dimulai dari para hakim – khususnya mulai dari hakim agung di Mahkamah Agung, jika ada hakim agung yang korup.
Sebab akan sia-sialah pekerjaan membersihkan lantai rumah, jika plafon (ceiling) dan atap rumahnya masih kotor.














