JAKARTA – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengungkapkan, konflik tarif perdagangan global akan berdampak buruk terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi dunia.
Potensi ini sudah disampaikan oleh berbagai lembaga dunia seperti Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), International Monetary Fund (IMF), dan World Bank.
Mereka merevisi pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah dari sebelumnya.
Dampak yang akan dirasakan oleh suatu negara akan berbeda tergantung pada tingkat tarif dan seberapa lama tarif tersebut berlaku.
Risiko stagflasi, stagnasi, hingga resesi berpeluang meningkat saat tarif tinggi berlangsung cukup lama.
Namun dalam perkembangannya, situasi konflik tarif dagang mulai menunjukkan indikasi perbaikan, di mana negosiasi antara pemerintah AS dengan berbagai mitra dagangnya mulai dilakukan.
Bahkan kesepakatan antara AS dan Inggris telah tercapai.
Dinamika yang terjadi direspons positif oleh pasar dan meningkatkan selera investasi. Kondisi ini pun tercermin dari tekanan jual investor asing mulai mereda di pasar saham domestik sementara nilai tukar rupiah pun terlihat mulai stabil.
Selanjutnya Samuel Kesuma, CFA, Chief Investment Officer – Equity MAMI menyampaikan, untuk mendukung kinerja pasar saham yang berkesinambungan, beberapa katalis yang cukup krusial sangat dinantikan pelaku pasar seperti pemangkasan suku bunga Bank Indonesia.














