Indonesia telah berada dalam era suku bunga tinggi sejak akhir 2022 sehingga penurunan suku bunga dapat mendukung likuiditas dan menjadi faktor pendukung ekonomi domestik
Samuelmenambahkan, katalis lain yang tak kalah penting adalah akselerasi belanja pemerintah Indonesia untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik.
Di tengah risiko pelemahan ekonomi global, belanja pemerintah menjadi faktor kunci yang akan berperan sebagai bantalan pendukung ekonomi domestik.
Data ekonomi terkini menunjukkan momentum pertumbuhan ekonomi domestik yang lemah.
Percepatan laju belanja pemerintah diharapkan mampu memutar roda perekonomian sehingga ekonomi domestik mampu tumbuh.
Selanjutnya dari sisi global, perkembangan lanjutan dari negosiasi tarif AS dengan para mitra dagangnya juga dibutuhkan agar sentimen positif tetap terjaga.
“Kami berharap negosiasi tarif dagang segera berakhir sehingga memberi kejelasan bagi seluruh pihak dan memitigasi dampak negatif terhadap ekonomi dan ketidakpastian pasar,” jelasnya.
Sebagai penutup, Samuel mengungkapkan bahwa level pasar saham saat ini masih berada di level menarik bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang.
Namun Samuel tetap mengingatkan bahwa dinamika pasar saat ini masih tinggi, sehingga penting bagi investor untuk menjaga keseimbangan risiko portofolio melalui diversifikasi, mewaspadai perubahan sentimen dari dalam maupun luar yang sewaktu-waktu dapat mengubah selera hingga sentimen pasar.














