Dan dengan disahkannya hasil pemilu oleh KPU, satu faktor ketidakpastian domestik telah berlalu. Pemilu relatif aman, dan kesinambungan kebijakan yang dijanjikan oleh presiden terpilih juga disambut pasar dengan baik, walaupun masih ada hal-hal yang kita tunggu, seperti susunan kabinet dan postur APBN.
Saat ini – di tengah tertundanya pemangkasan Fed Funds Rate yang berdampak negatif terhadap sentimen jangka pendek – fundamental Indonesia sebenarnya tetap terjaga.
Beberapa diantaranya adalah pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi terkendali, persepsi risiko rendah, pertumbuhan kredit masih sehat. Kita harapkan setelah “noises-noises”, kekagetan pasar akibat penyesuaian ekspektasi ini berlalu, investor global dapat kembali jernih melihat potensi jangka menengah panjang Indonesia sebagai tujuan investasi.
Satu hal yang menjadi fokus dari pemerintah dan Bank Indonesia adalah nilai tukar Rupiah. Setelah tertundanya ekspektasi penurunan Fed Funds Rate, mata uang dolar AS dan imbal hasil US Treasury melejit, dan ditambah lagi faktor ketegangan geopolitik bulan April, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS merosot sampe ke kisaran 16.300 an. Akhirnya BI melakukan kebijakan antisipatif, menaikkan suku bunga acuan ke level 6,25%.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kenaikan suku bunga dapat membantu memperlambat depresiasi nilai tukar Rupiah. Dan BI masih mempertahankan pandangan positif terhadap perekonomian Indonesia 2024.
Untuk pasar obligasi, upaya BI untuk menjaga nilai tukar Rupiah dan komentar terakhir Chairman The Fed mengenai Fed Funds Rate yang sepertinya sudah tidak akan naik, dalam jangka pendek dapat menjadi penopang.
+Hal ini sudah mulai terlihat di pertengahan bulan Mei, dimana imbal hasil obligasi sudah mulai turun dan nilai tukar Rupiah yang secara gradual mulai menguat kembali.
Dan ini sesuai dengan data historis, dimana penguatan nilai tukar Rupiah dan penguatan pasar obligasi cenderung sejalan atau linear.
Sementara di pasar saham, fundamental ekonomi yang terjaga dan valuasi yang rendah membuka peluang bagi investor yang ingin berinvestasi dini memanfaatkan kondisi di akhir siklus kenaikan suku bunga.
Selain itu, arah kebijakan ekonomi pemerintahan baru serta pilihan kabinet yang kredibel juga dapat menjadi katalis positif ke depannya.
PENUTUP
Kuartal dua 2024 memang diawali perubahan-perubahan ekspektasi, yang kemudian diikuti dengan volatilitas tinggi dan sentimen pasar yang kurang kondusif.
Namun dengan berjalannya waktu, pasar pun melakukan penyesuaian, volatilitas terlihat mereda, dan sentimen sudah sedikit membaik.
Yang perlu kita ingat, secara keseluruhan perekonomian global tahun ini diperkirakan masih bertumbuh, dan inflasi global pun dalam tren penurunan.
Di Indonesia sendiri, fundamental ekonomi masih terjaga kuat, dan katalis-katalis penopang dan potensi pasar finansial pun masih sangat cukup.
Mari kita fokus pada peluang jangka menengah panjang, dan jadikan volatilitas jangka pendek sebagai peluang yang belum tentu berulang.
Penulis adalah Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) di Jakarta













