Sementara itu, dalam rangka memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai 31 Desember 2015, Rachmat menegaskan, mulai tahun depan Indonesia harus agresif “menyerang” pasar-pasar ASEAN dengan produknya yang berdaya saing tinggi.
Selama Januari-Agustus 2014, berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Indonesia dengan ASEAN khususnya untuk nonmigas masih mengalami defisit sebesar USD 0,26 miliar. Total ekspor nonmigas nasional ke negara-negara anggota ASEAN mencapai USD 20,27 miliar, sedangkan impor nonmigas sedikit lebih tinggi yaitu sebesar USD 20,53 miliar.
Untuk mengamankan pasar dalam negeri dari serangan produk impor, terutama barang konsumsi, akan dioptimalkan seluruh perangkat yang ada seperti kebijakan anti dumping, anti subsidi, pengamanan perdagangan (safeguard), tata niaga, serta perangkat lain termasuk bea masuk.
Tantangan lain yang dihadapi adalah defisit neraca perdagangan, yang sampai saat ini masih mengalami defisit, namun nilai defisitnya lebih kecil dibandingkan tahun lalu. Ke depan, ekspor nonmigas harus lebih ditingkatkan guna menutup defisit dari impor minyak.
Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang berada di luar negeri harus bekerja keras membantu pengusaha mendapatkan pasar ekspor dengan menjadi “sales” bagi produk-produk Indonesia, melakukan promosi perdagangan yang tepat di negara-negara yang membutuhkan produk Indonesia yang memiliki daya saing tinggi, di samping membuka peluang-peluang pasar baru.













