- Jerman: peningkatan anggaran belanja untuk modernisasi pertahanan dan infrastruktur.
- Korea Selatan: peningkatan anggaran pertahanan, energi, manufaktur, dan AI.
- Jepang: peningkatan belanja dalam bentuk stimulus pro pertumbuhan, subsidi energi, dan investasi sektor pertahanan, AI, semikonduktor, dan mineral kritis.
- Amerika Serikat: One Big Beautiful Bill Act yang dicanangkan oleh Presiden Donald Trump, berupa pemangkasan pajak dan belanja tambahan untuk pertahanan dan keamanan perbatasan.
Beralih ke Indonesia, apa tanda-tanda terkini yang mengafirmasi bahwa pemulihan mulai terjadi?
Setelah melalui kondisi pelemahan di periode 2024 – 2025, beberapa indikator terkini menjelang tutup tahun 2025 mulai menunjukkan sinyal stabilisasi, misalnya perbaikan aktivitas manufaktur, penjualan ritel, dan penurunan PHK, peningkatan peserta aktif BPJS, dan kenaikan kepercayaan konsumen.


Ditambah dengan potensi percepatan dan realisasi belanja pemerintah, stimulus, di tengah iklim suku bunga yang masih terjaga rendah, seharusnya pemulihan ekonomi 2026 dapat semakin lancar.
Dinamika ekonomi 2025 memiliki warna serupa dengan dinamika ekonomi 2015, di mana saat itu iklim pertumbuhan ekonomi global dan domestik sedang lemah, dan Indonesia juga sedang dalam periode transisi kebijakan pemerintah baru.
Pada saat itu, tekanan yang terjadi di sektor riil dan pasar finansial direspons pemerintah dengan langkah-langkah kebijakan pro pertumbuhan, yang baru terlihat hasilnya di 2016.
Dengan skenario yang sama, kebijakan-kebijakan serupa yang diimplementasi sepanjang tahun 2025 diharapkan dapat mulai memperlihatkan hasil di 2026 mendatang.
Bagaimana dengan Indonesia, apakah kebijakan pro pertumbuhan juga akan lebih difokuskan pada kebijakan-kebijakan fiskal, setelah penurunan suku bunga yang sangat agresif tahun 2025 ini?













