Oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi Anies kecuali dia harus bersinergi dengan kekuatan Nasionalis, yakni PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo sebagai Capresnya.
Kegundahan Anies Baswedan dan Surya Paloh ini ditangkap oleh PDIP, dan mengingat di berbagai release lembaga-lembaga survei terpercaya, nama Anies Baswedan terus menerus berada di posisi ketiga, maka memanfaatkan Anies untuk dapat mengungguli suara elektabilitas Prabowo yang terus bersaing ketat dengan Ganjar Pranowo adalah sebuah taktik dan strategi yang tepat.
Apalagi jika kedua team Capres Ganjar dan Anies ini sudah lama melakukan kerjasama politik untuk penjajakan pasangan Capres/Cawapres 2024.
Kedua, pada kenyataannya hasil survei dari beberapa lembaga survei terpercaya, meski elektabilitas Prabowo berada di atas Ganjar Pranowo, namun kecenderungan Ganjar Pranowo rebound itu tak dapat dihadang.
Trend elektabilitas Ganjar selalu cenderung naik, sedangkan elektabilitas Prabowo dan Anies cenderung menurun. Jika disimpulkan akan terbaca, bahwa popularitas Prabowo dan Anies ternyata tidak sebanding dengan elektabilitasnya.
Maka ketika Anies nantinya dapat dirangkul oleh Ganjar menjadi Cawapresnya, dengan seketika elektabilitas pasangan Prabowo dengan siapapun akan langsung anjlok alias turun drastis.
Jangan pernah bermimpi Prabowo akan maju berpasangan dengan Gibran Rakabuming sebagaimana yang publik hendak diarahkan oleh Raja Survei Indonesia Denny JA.
Sebab selain Mahkamah Konstitusi belum memutuskan judicial review yang memperbolehkan usia Capres/Cawapres minimal 35 tahun, ide Denny JA yang diamplifikasi oleh para pendukung Prabowo tersebut, sudah dijawab langsung oleh Gibran dengan gerakan pasang sticker Capres 2024 Ganjar Pranowo di pintu-pintu rumah penduduk.
Ini artinya Gibran tak sudi disandingkan dengan Capres Prabowo.
Ketiga, di hari-hari ini sudah mulai ramai pernyataan demi pernyataan politisi PDIP dan NASDEM yang selalu bersambut, bahwa dari mereka mulai terbersit keinginan untuk menduetkan Ganjar dan Anies di Pilpres 2024.
NASDEM dan PKS nampak sekali tidak keberatan apabila status Cawapres yang diusungnya turun derajat menjadi Cawapresnya Ganjar Pranowo.
Ini sangat rasional dan lumrah, mengingat elektabilitas Anies terus menerus menurun dan hingga kini belum mampu menemukan calon Cawapresnya, serta dihantui oleh kecemasan akan larinya partai koalisinya sendiri, yakni Partai Demokrat karena kecewa AHY tak diterima sebagai Cawapresnya Anies.
Meski demikian posisi elektabilitas Anies selalu berada di atas tokoh-tokoh politisi lainnya selain Ganjar dan Prabowo.














