Sebelum Partai Demokrat benar-benar kabur berkoalisi dengan PDIP, maka tidak ada jalan lain bagi NASDEM untuk merapat terlebih dahulu ke PDIP. Demikian pula dengan PKS yang sudah lama trauma mendukung Prabowo namun selalu kalah, tidak akan mau jatuh di lubang kegagalan yang sama untuk ketiga kalinya, karenanya merapat ke PDIP merupakan pilihan terbaiknya.
Inilah Dansa Politik 2024 yang akan mencengangkan banyak orang, mau menerima kenyataan bersekutu dengan Kadrun atau mau bersekutu dengan mantan penculik dan pembunuh.
Silahkan pertimbangkan saja maslakhat dan mudharatnya (baik dan buruknya).
Kupas tuntas analisa peta politik 2024 selesai sudah, sekarang mari kita bahas soal kelanjutan Pemerintahan Jokowi yang hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Terdengar dari berita bahwa sepulang dari Afrika, Presiden Jokowi akan segera bertemu dengan Capres Ganjar dan Prabowo di Semarang di akhir bulan Agustus ini.
Sebagian orang menganggap ini sebagai keresahan Presiden Jokowi terhadap situasi Pilpres 2024.
Disinyalir pula, Presiden Jokowi khawatir salah pilih dukung Capres antara Ganjar dan Prabowo, di sisi lain sebagai Presiden beliau haruslah netral (tidak memihak) sebagaimana yang Ibu Megawati juga ingatkan.
Namun bagi saya, haqqul yaqin bukanlah itu persoalannya, sebab bagaimanapun Presiden Jokowi sebagai kader PDIP dan yang sangat tau percis persoalan, pastinya diam-diam ataupun secara terbuka, pada waktunya nanti akan mendukung Capres Ganjar Pranowo.
Prabowo sudah sangat tua, tak mampu lagi berlari marathon (perlambang kerja cepat sat-set sat-set), selain itu juga terganggu kesehatan dan –maaf– mentalnya.
Presiden Jokowi sangat tau itu, karenanya kekhawatiran salah mendukung Ganjar bukanlah alasan, karena itulah pilihan yang terbaik bagi Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi sepertinya hanya ingin memastikan bahwa yang akan maju Pilpres 2024 hanya dua calon itu, sebab selain akan mempermudah pembacaan peta politiknya juga akan menghemat jauh anggaran PEMILU.
Selain hal di atas, Presiden Jokowi tentunya juga akan mulai mengefektifkan kinerja kabinetnya yang hanya tersisa lebih kurang satu tahun lagi, dimana menteri-menteri yang sudah tidak bisa lagi bekerja secara efektif, dan tidak menguntungkan kepentingan politiknya untuk jangka panjang sudah seharusnya diganti dengan tokoh-tokoh relawannya yang selama ini berdiam diri di luar pagar istana.














