Kemudian, terlepas dari inefisiensi dan efek elektoral politik uang yang terkesan kecil, dalam konteks kompetisi internal yang sangat ketat seperti di Indonesia.
Politik uang dapat membuat perbedaan antara yang menang dan kalah.
Meskipun strategi pembelian suara hanya mempengaruhi pilihan sebanyak 10 persen pemilih, angka ini lebih dari cukup bagi banyak kandidat untuk mencetak kemenangan dalam pemilu.
Selanjutnya, fenomena tragis dalam pemilu 2019 adalah penggunaan tribalisme agama dalam kampanye.
Menurut Herry Priyono, manipulasi sentimen tribalisme agama merupakan salah satu bentuk populisme yang marak digunakan dalam pemilu di berbagai macam tempat.
Eksploitasi sentimen tribal ini telah terbukti efektif dalam gelaran pilkada DKI Jakarta 2017 silam, di mana kontestasi pemilihan berubah menjadi perang sentimen agama.
Sentimen semacam ini diperlukan untuk memobilisasi pemilih dalam suatu kontestasi pemilihan.
Populisme semacam ini justru membelah masyarakat dan wajah politik pemilu menjadi porak poranda.
Songket kebangsaan yang telah ditenun dalam waktu lama dirusak oleh tindakan para petualang politik.
Dengan ideologi semacam inilah mengakibatkan erosi bagi demokrasi.
Karena demokrasi elektoral itu bergantung pada preferensi pemilih.












