Dengan target peningkatan sebesar beberapa miliar dolar AS, komoditas seperti kedelai, gandum, dan kapas dipilih karena sesuai dengan kebutuhan domestik dan tidak menimbulkan sensitivitas politik yang tinggi.
Namun demikian, impor dalam jumlah besar akan memukul pemasok tradisional seperti Australia, Kanada, dan Brasil.
Dampak langsungnya adalah Indonesia akan mengalihkan jalur pasok dan mempersempit diversifikasi perdagangan.
Ini bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga geopolitik pasokan pangan yang semestinya dikelola secara hati-hati.
Fiskal Yang Mengecil
Di sisi fiskal, peningkatan impor pangan berdampak pada mekanisme perpajakan.
Untuk menarik investasi dan memberi insentif kepada importir, pemerintah telah mempertimbangkan relaksasi tarif PPN dan PPh atas produk impor asal AS.
Kebijakan ini secara jangka pendek mungkin memperlancar aliran barang, tetapi dalam jangka menengah dapat menyebabkan penurunan penerimaan negara.
Di tengah tantangan fiskal pasca-pandemi dan kebutuhan belanja publik yang masih tinggi, potensi penurunan pendapatan ini layak diwaspadai.
Pengalihan Impor Migas ke AS: Hati-Hati
Kebijakan pengalihan impor migas ke AS menjadi babak kedua dari upaya negosiasi ini.
Pemerintah menyatakan akan mengalihkan sekitar 20-30% impor minyak mentah dan LPG dari negara-negara Timur Tengah ke AS, dengan total nilai mencapai US$10 miliar.















