Konstruksi berpikir Persaudaraan Sebangsa berpijak pada tiang-tiang pondasi senasib-sepenanggungan. Senasib-sepenanggungan adalah kemerataan, “jika saya bisa memakan buah yang segar, maka saudara saya dimanapun berada juga harus bisa memakan buah yang segar.”
Senasib-sepenanggungan dalam manusia yang merdeka, “jika saya bisa dengan bebas berbicara sendiri tanpa ada yang mengusik, maka saudara saya yang dimanapun berada juga harus bisa mendapatkan kemerdekaan mereka untuk berbicara sendiri tanpa ada yang mengusik.”
Pikiran orisinal bangsa Indonesia yang lahir dari semangat senasib-sepenanggungan lah yang menjamin diskriminasi di negara ini tidak menjadikan kita bangsa berbahaya. Semangat tersebut lah yang akhirnya mengizinkan kita tetap terus bergandengan tangan sebagai saudara sebangsa, walau saat ini pemikiran orisinal dari ibu dan bapak bangsa terus berusaha digerus oleh pedagang-pedagang paham.
Jika publik tengah ditakut-takuti dengan bangkitnya paham PKI, itu sebenarnya kedok yang dipasang untuk menutupi paham superioritas sedang digalakkan, dengan tujuan yang pasti yaitu, membuat bangsa Indonesia semakin melupakan bahwa kita ini semua senasib-sepenanggungan.
Jika pemikiran senasib-sepenanggungan ini semakin terkikis, maka yang ada hanyalah paham kebencian terhadap yang berbeda, terhadap yang minoritas, terhadap sesama anak bangsa yang merantau ke suatu daerah lain karena pekerjaan atau hal lainnya.













