Paham Superioritas ini dahulu sempat dihidupkan, akhirnya muncul pertikaian antar suku, antar kelompok dan antar agama. Indonesia pada saat itu bisa bangkit walau menyisakan luka yang berbekas. Tidak ada kata lain, selain kita harus menolak paham-paham dari luar yang nantinya akan menghilangkan keaslian identitas kita sebagai Bangsa Indonesia.
Pertarungan Paham pada Pilpres
Rasa senasib-sepenanggungan adalah barang mewah yang kita miliki saat ini di tengah gempuran paham-paham superior yang dibawa masuk ke dalam negeri. Bagi saya, tahun 2019 bukan sekedar politik elektoral, bukan sekedar siapa yang menjadi penguasa. Tahun 2019 adalah pertarungan paham, apakah paham yang kita anut sebagai bangsa yang senasib-sepenanggungan yang menang? Jawaban saya, “ya harus menang!”
Pikiran atau paham asli yang lahir dari Ibu Pertiwi yang harus menang. Tidak ada tempat bagi pikiran dan paham asing untuk boleh berkembang biak dan menjadi pondasi di negeri ini, karena negeri ini dibayar oleh nyawa ibu dan bapak bangsa.
Negeri ini merdeka bukan ditentukan oleh para pemenang perang Dunia II. Negeri ini merdeka karena rasa senasib-sepenanggungan sebagai orang terjajah. Paham superior akan mendatangkan kesombongan, lupa diri, eksploitatif. Sementara paham senasib-sepenanggungan akan mendatangkan keindahan, kedamaian, ketentraman dan kerukunan sesama Bangsa Indonesia.













