Kemudian Chatib Basri juga menjelaskan potensi dari kelas menengah dalam menggerakkan ekonomi Indonesia.
“Yang mendorong perekonomian itu adalah permintaan. Kelas menengah itu sebagai profesional complainer, Tidak ada yang lebih hebat dari kelas menengah kalau complain . Ini sebetulnya bagus, untuk membuat ibu Sri Mulyani kerja lebih keras. Kelas menengah akan menjadi agent of change karena dia akan memaksa pemerintah untuk bekerja lebih baik lagi,” paparnya.
Ia juga menjelaskan potensi dari industri kreatif yang sejalan dengan gaya hidup para kelas menengah.
“Dengan berkembangnya kelas menengah industri kreatif itu jadi luar biasa. Dari yang namanya niche ke wants . Jadi, bukan pakaian yang dipakai, tapi harus indah dan menarik. Masa depan industri kreatif ini akan menarik,” tegasnya optimis.
Menurut Menkeu, kelas menengah akan memberikan dampak terhadap ekonomi Indonesia, terutama dari sisi permintaan dan gaya hidup.
“Kelas Menengah 45 juta tahun 2010. Kalau studi kelas menengah sendiri, pada dasarnya berbagai lembaga yang melakukan studi, memunculkan apa yang disebut kelas masyarakat di atas kemiskinan, sebagian masih rapuh dan sebagian sudah establish. Tahun ini mungkin sudah naik mendekati 60 juta dan 2020 diperkirakan 80 juta. Seluruh Malaysia tidak akan sebesar itu, demikian seluruh ASEAN. Jadi, ini akan menjadi penggerak ekonomi Indonesia,” tegas Menkeu.














