Dalam kesempatan tersebut Menkeu memaparkan hasil salah satu survei yang dilakukan oleh Women Career Advancement in Public Service tahun 2012 yang dilakukan di lingkungan pegawai negeri sipil di Indonesia menunjukkan bahwa hambatan karir perempuan terutama karena mereka cenderung menolak pekerjaan jika jauh dari tempat tinggalnya dan lebih memilih untuk mengasuh anak.
Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan bahwa hal tersebut tidak terlepas dari tekanan persepsi masyarakat secara umum yang melihat peran laki-laki dan perempuan yang tidak setara.
Survei mengindikasikan bahwa perempuan karir dinilai lebih rendah dibandingkan dengan perempuan yang memiliki anak.
“Itu, like it or not, those perceptions itu menjadi stigma yang membebani kita yang bekerja,” jelas Menkeu.
Oleh karena itu, untuk mengurangi ketimpangan perbedaan dan ketidakadilan gender terutama di lingkungan kerja Kemenkeu, Menkeu mendorong agar para pejabat merubah pola pikirnya dengan lebih mengedepankan sensitivitas gender.
Hal ini penting agar Kemenkeu memiliki environment yang lebih friendly dan supportive bagi para pegawai perempuan.
Salah satu bentuknya adalah dimulai dari identifikasi masalah berdasarkan evidence-based gender.














