Dengan terbentuknya korporatisasi petani tersebut, perbankan dapat dengan mudah memberikan pembiayaan kepada petani.
“Jadi bagaimana lembaganya diperbaiki baik dari korporasi dan koperasi dan terhubung dengan offtaker jadi pembiayaan mau masuk. Kenapa bank nggak mau membiayai? Karena sektor pertanian ini punya risiko tinggi. Tapi kalau dipastikan ada offtaker-nya, pasti bagus. Ini perlu ditata dengan baik,” ujar Teten.
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa komoditas kakao di Bali khususnya Kabupaten Jembrana merupakan komoditas kakao nomor satu di Indonesia.
Hal tersebut bahkan sudah diakui saat Teten berkunjung ke Jember bahwa komoditas kakao terbaik di Indonesia merupakan kakao yang berasal dari Jembrana.
Namun, Teten mengatakan bahwa saat ini terdapat permasalahan yang dihadapi para petani kakao di Jembrana.
Salah satunya ialah memastikan biji kakao yang diproduksi memiliki standar mutu yang sama.
“UMKM jangan lagi sebagai ekonomi marjinal tapi kita dorong ke industrialisasi. Kalau di Jembrana kita harus besarkan industri kakao. Kita harus berani. Kita lihat peluang di daerah itu dan dorong ke sana. Kita harus mulai masuk industrialisasi,” tuturnya.
Teten menegaskan, dalam kondisi pandemi Covid-19, Bali harus bisa memanfaatkan digitalisasi.














