Untuk itu, menurut Menperin, diperlukan langkah kolaborasi dan sinergi di antara pemangku kepentingan dalam memajukan IKM nasional. ‘Melalui berbagai program dan kegiatan, kita terus tingkatkan kapasitas IKM dengan potensi yang ada,” ujarnya.
Langkah tersebut sejalan dengan tekad Presiden Joko Widodo yang ingin gencar membangkitkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di dalam negeri. Selain itu menjadi wujud implementasi salah satu program prioritas pada Making Indonesia 4.0.
“Di Aceh, sektor IKM yang juga cukup potensial di antaranya penghasil olahan kopi, makanan dan minuman, serta pengolahan minyak atsiri. Hampir tidak ada parfum yang tanpa menggunakan minyak atsiri,” papar Airlangga.
Pada kunjungan tersebut, Menperin mengapresiasi sentra kerajinan bordir yang dijalankan oleh 150 orang perajin yang mayoritas adalah ibu rumah tangga. Salah satu pengusaha, yaitu pemilik Karya IndahBordir Ellia Sari menyampaikan, kerajinan bordir yang diproduksi kelompoknya sudah merambah pasar ekspor mulai ke Malaysia hingga Amerika Serikat.
“Keunikan produk tas Aceh adalah pada proses pembuatannya yang dijahit manual. Kami terus menekankan kepada pengrajin supaya menjaga kualitas agar terus diterima konsumen dan produk kami dapat terus bersaing,” tandasnya. Ia juga menyebutkan, IKM tas Aceh membutuhkan mesin finishing, tas, kemudahan akses bahan baku dan tambahan tenaga kerja.















