“Kita juga harus mengurangi ketergantungan impor bahan baku produk pertanian sehingga bisa meningkatkan efisiensi di semua rantai nilai industri,” jelasnya.
Sepanjang tahun 2018, nilai ekspor produk hortikultura segar dan olahan diproyeksi mencapai Rp2,23 triliun.
Berdasarkan
data Pemerintah Provinsi Gorontalo, pada tahun 2018, jumlah industri
skala besar dan sedang terdapat 20 perusahaan dengan penyerapan tenaga
kerja sebanyak 7.693 orang. Sedangkan, industri mikro dan kecil mencapai
12.360 unit usaha dengan melibatkan 31.910 tenaga kerja.
Sektor perkebunan kelapa menjadi prospek andalan berlangsungnya produksi pabrik tepung kelapa dan nata de coco
di
Kabupaten Gorontalo. Sementara itu, di Provinsi Gorontalo, juga
terdapat satu kawasan industri yaitu Kawasan Industri Agro Terpadu
(KIAT) di Kabupaten Bone Bolango.
Didampingi
Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Menperin berkesempatan untuk meninjau
dan berdialog langsung dengan para pengusaha dan karyawan PT Royal
Coconut dan PT Harvest Gorontalo Indonesia (HGI).
“Terbukti
dengan investasi Rp500 miliar, PT HGI bisa menghasilkan devisa ekspor
sebesar Rp1,5 triliun. Selain itu, kami meninjau pabrik tepung kelapa PT
Royal Coconut yang investasi awalnya Rp100 miliar, saat ini ekspornya
mencapai Rp300 miliar. Artinya, ada potensi-potensi Gorontalo dengan
industri berbasis hortikultura, dan ini yang akan kami dorong,” papar
Airlangga.














