Menurut Menperin, batik tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang kuno atau terbatas penggunaannya untuk acara formal semata.
Menperin juga menilai batik memiliki potensi besar untuk tampil modern dan digemari lintas generasi apabila dikembangkan dengan pendekatan desain dan gaya hidup yang kekinian.
“Batik tidak boleh hanya dianggap sebagai barang jadul, atau hanya digunakan oleh orang tua. Kalau didesain dengan baik dalam bentuk pakaian, aksesoris, atau sepatu, batik bisa jadi sesuatu yang keren, cool, dan menarik,” tegasnya.
Adapun kegiatan Fun Run and Walk, lanjut Menperin, merupakan sebuah momentum yang mencerminkan pendekatan baru dalam memperkenalkan batik kepada generasi penerus bangsa dengan cara yang menyenangkan.
“Batik itu tidak boleh kaku. Kalau persepsinya tua atau jadul, ya jadi tidak fun. Maka dari itu, kita buat fun run, supaya batik bisa lintas generasi. Inilah yang harus kita terus sosialisasikan kepada generasi-generasi penerus,” kata Agus.
Dengan kekayaan yang dimiliki Indonesia, Menperin menegaskan, masyarakat khususnya anak muda harus agresif serta percaya diri dalam menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki batik.
Namun, kecintaan terhadap batik tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk simbolik, tetapi harus disertai dengan tindakan nyata yang berkontribusi terhadap keberlangsungan industri.















