Di samping itu, Menperin mengatakan, target investasi industri hilir yang dipromosikan oleh Kementerian Perindustrian adalah produk hilir minyak sawit bernilai tambah tinggi yang meliputi Oleo food: minyak goreng sawit, minyak salad, margarine, shortening, lemak padatan, lemak substitusi cokelat, ice cream fat, vegetable ghee, dsb, Oleo kimia: asam lemak, alkohol lemak, sabun, toiletries, kosmetik, glycerine dsb dan Energi terbarukan: biodiesel, bioethanol, bio jet fuel, biomass, dsb.
Menperin menegaskan, program hilirisasi industri kelapa sawit sangat relevan dengan program Nawa Cita yaitu “Mewujudkan bangsa yang berdaya saing” melalui pembangunan ekonomi industri berbasis hasil perkebunan kelapa sawit, yang pada umumnya berada di luar Jawa dan daerah perbatasan.
Sementara itu, Deputi Chief Mission KBRI di Den Haag, Ibnu Wahyutomo mengatakan, di Belanda dan Uni Eropa banyak perusahaan yang bergerak di industri hilir minyak sawit. “Dibukanya kesempatan investasi menjadi hal yang menarik bagi investor Belanda dan Eropa mengingat besarnya pasar dan tingginya pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sementara di pertumbuhan ekonomi di Eropa terhitung kecil,” ujarnya. Menurutnya, peran pengusaha dari Benua Biru ini lebih luas. Jika sebelumnya lebih banyak berperan sebagai importir maka di masa mendatang menjadi investor industri hilir kelapa sawit di Indonesia yang memasarkan produknya ke Eropa dan pasar global lainnya.















