Lebih lanjut, Arifin menekankan melalui kebijakan engan kebijakan yang tepat, berani, dan agresif, yaitu dengan mengkonversikan BBM ke bioenergi, Indonesia berhasil menurunkan angka impornya menjadi USD19 miliar.
“Angka (selisih) USD3 miliar itu signifikan perubahannya,” tambah Arifin.
Guna memperbaiki lingkungan, Arifin menegaskan, sudah saatnya Indonesia beralih pada pengembangan EBT.
Ia pun mencontohkan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia memiliki kadar emisinya di atas 40 persen. Hal ini mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat.
“Di ASEAN, kadar emisi Jakarta paling tinggi, maka dari itu memang energi dari matahari betul-betul kita galakkan dan intensifkan, kita mempunyai lapangan bagaimana ini atap-atap rumah, atap gudang bisa dipasang panel-panel untuk ke depannya,” pungkas Arifin.















