Ketiga terkait dengan responden, CSIIS tidak menjelaskan secara detail berapa jumlah responden yang diwawancarai.
Padahal, untuk mendapatkan hasil yang dapat mewakili populasi penentuan jumlah responden juga memiliki aturan main tersendiri seperti menggunakan rumus slovin dan berapa margin erornya.
Ketidakterbukaan informasi ini juga menimbulkan tanda tanya besar berapa orang sebenarnya yang menjadi responden eknik CSIIS.
Terakhir, teknik purposive sampling merupakan bagian dari eknik non-probability sampling.
Teknik ini dilakukan apabila jumlah populasi tidak dikenal secara pasti dan hasilnya tidak dapat digeneralisasikan.
Artinya, hasil riset yang dilakukan CSIIS tidak bisa diberlakukan secara umum, dalam hal ini warga NU.
Keempat aspek di atas memberikan gambaran kepada kita sebagai penikmat berita politik bahwa rilis hasil riset yang dilakukan oleh CSIIS tidak memiliki kejelasan terhadap populasi yang diuji, bahkan juga tidak bisa menjelaskan apakah yang diuji adalah santri dari pondok pesantren NU atau bukan.
Pihak yang Dirugikan
Rilis survei yang dilakukan oleh CSIIS tentu merugikan berbagai pihak seperti tokoh dan kader NU yang memiliki potensi dan peluang menjadi Calon Presiden RI di 2024, termasuk figur Erick Thohir sendiri.















