Semua biji-bijian tsb dilarang dibuang dan setelah dipersiapkan lalu ditanam.
Jadilah Ibu Mega memiliki kebon penuh tanaman dari biji-bijian yang dikumpulkan.
“Setiap biji-bijian, apalagi pohon punya hak untuk hidup.”, ujar Hasto menirukan Megawati.
Hasto melanjutkan hal itu bukanlah satu-satunya teladan dari Megawati.
“Ibu Mega, kalau Anda datang ke Teuku Umar, Anda disajikan kopi sama teh. Itu kalau tehnya sisa, itu bukan dibuang, dikumpulkan karena dia organik, dikembalikan pada tanaman. Kalau Ibu Mega makan kacang, kulit kacang itu dikumpulkan, tidak boleh dibuang, ditaruh di atas tanaman karena dia menyuplai kalium,” papar Hasto dengan rinci.
Ia menegaskan, tindakan sederhana ini berasal dari nilai yang ditanamkan Bung Karno dan Megawati tentang merawat pertiwi, yang bertitik tolak dari ajaran Tattwam Asi (engkau adalah aku, aku adalah engkau).
“Setiap pohon itu juga punya jiwa, punya kehidupan. Kalau kita mencintai pohon, maka mereka bukan hanya menghasilkan oksigen, mereka juga akan mencintai dan ikut merawat Indonesia Raya kita, kata Hasto.
Hasto kemudian mengaitkan kerusakan lingkungan dengan sistem yang tidak adil. “Bagaimana lingkungan telah dirusak akibat kapitalisasi kekuasaan politik yang luar biasa, sehingga lahan-lahan hutan dikonversi menjadi lahan-lahan sawit. Padahal Ibu Mega menanamkan sawit adalah tanaman yang arogan,” tegasnya.















