Uskup Sinaga, melanjutkan, “Bahkan Barrack Obama (presiden Amerika Serikat) cemburu kepada negara Pancasila. Karena di sana yang hanya ada dua warna kulit, dan warna lainnya saling menembak dan membunuh.”
Dia juga menguraikan pengalamannya saat kuliah di Kanada. Negara yang hanya terdiri dari dua pembeda, dalam hal ini Bagasa Belanda dan Perancis. Namun berpenduduk belasan juta itu, kerap dilanda konflik dan permusuhan sentimentil.
Sementara di bumi Indonesia, 361 suku dan bahasa bisa rukun dan bersaudara. “Karenanya, sesuaui dengan Perintah Tuhan, agar Umat mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri,” ujarnya.
Kepada ISKA secara lembaga dan pengurusnya, Uskup AB Sinaga berharap, aga berkumpul untuk memperbaharui dan merevitalisasi cinta kepada bangsa Indonesia. Serentak sebagai ungkapan iman kepada Tuhan Maha Esa.
ISKA tidak berpretensi berbuat yang lain. Apalagi, bangsa Indonesia yang dikagumi seluruh dunia. Itu terjadi karena prinsip Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.
Menurut Mgr AB Sinaga, Indonesia yang terdiri atas beragam suku bangsa dan bahasa menghadapi tantangan. Di antaranya, saat ini, banyak tantangan yang ingin mencoba mengobah prisip dasar ideologi Pancasila. “Kita telah menjadi saksi dari beberapa kekuatan yang hendak memecah belah bangsa ini. Tetapi melalui pertemuan ISKA ini, kita hendaknya mengulangi dan menegaskan dasar negara kita,” kata Uskup berserunya dari podium saat menyampaikan homili atau khutbah.













