Sementara dari China, masih terkait dengan pasar kredit China yang terganggu. Tetapi, masalah tersebut sudah berhasil diatasi karena suku bunga kredit di China diarahkan sesuai dengan mekanisme pasar. “Kedepan, pasar kredit China tidak akan mengalami gangguan dan akan kembali normal,” jelas dia.
Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi China ke level tinggi karena dari eksternalnya, kinerja ekspor terus menurun.. “Jadi, ada perubahan orientasi kebijakan agar pertumbunan ekonominya ditopang oleh pengeluaran domestik di China.
Namun demikian, tekanan terhadap rupiah sedikit mereda menyusul lelang foreign exchange (FX) swaps. Lelang FX swaps ini mestinya positif untuk penguatan nilai tukar rupiah ke depan. “BI juga terus menjaga rupiah dikisaran 10.200,” pungkas dia.














