JAKARTA-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pengembangan kendaraan listrik lebih mudah dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor minyak ketimbang meningkatkan produksi minyak. Apalagi kendaraan listrik tidak menimbulkan polusi udara.
“(Kendaraan listrik) ini lebih mudah daripada harus meningkatkan produksi minyak. Karena dari eksplorasi sampai menghasilkan minyak mentah–kalau sebelum reformasi katanya butuh waktu 7 tahun–sekarang perlu 15 tahun, makin lama,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dalam seminar bertajuk “Prospek Penerimaan Negara dari Mineral, Batubara, dan Migas di Tahun Politik” di Kampus UI Depok, Senin, (1/4/2019).
Mantan Menteri Perhubungan itu menuturkan lamanya waktu produksi minyak juga dipengaruhi oleh aturan-aturan yang dibuat daerah.
Presiden Jokowi sebelumnya menyebut kendaraan bermotor listrik dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan ramah lingkungan.
“Melalui kendaraan bermotor listrik kita juga dapat mengurangi pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM), mengurangi ketergantungan pada impor BBM yang berpotensi menghemat kurang lebih Rp798 triliun,” kata Jokowi.
Oleh karena itu pemerintah saat ini terus mendorong pengembangan kendaraan beremisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) dalam implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.













