Ke depan, Wakil Rakyat dari Madura ini berharap ada beberapa hal yang perlu terus menjadi fokus perhatian, yakni mengupayakan semaksimal mungkin inflasi dan pandemi terkendali meski harganya tidak murah.
Sebab dana APBN 2022 sangat besar dikeluarkan untuk menjaga daya beli rumah tangga, khususnya pada sektor makanan dan transportasi.
Namun sejak awal APBN memang dirancang sebagai peredam kejut atau shock absorber dalam menghadapi tekanan eksternal dan ancaman laten pandemi.
Selain itu, ia mengingatkan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Fed, terus berimplikasi kepada kenaikan suku bunga surat utang Indonesia sehingga biaya dana akan semakin mahal.
Bila terus berlanjut, keadaan tersebut akan terus mengoreksi fiskal karena beban pembayaran bunga utang akan terus naik, pararel dengan tingginya subsidi dan kompensasi energi.
“Maka dari itu, saya meminta pemerintah mewaspadai dan membuat pembaharuan kalkukasi pada APBN bila gejala kenaikan suku bunga acuan dan harga energi terus berlanjut,” sarannya.
Di sisi lain lanjutnya, pemerintah juga perlu terus mengambil langkah penting untuk pengadaan impor minyak bumi di tengah kerentanan atas tren kenaikan harga.
“Sumber dan mekanisme pengadaan harus diawasi betul oleh aparat penegak hukum. Jangan sampai momentum ini menjadi alat perburuan rente,” tegas Said.













