Masyarakat yang terlalu banyak bertanya dan over kritis kata Nazaruddin, adalah orang yang tidak pernah bersykur kepada Allah SWT, sehingga hidupnya tidak tenang, tidak nyaman, dan tidak tentram. Seperti kasus sapi betina (Al-Baqorah) yang terus ditanyakan dari ujung rambut sampai ujung kaki, hanya untuk disembelih.
Dengan demikian kata Rektor Institut Pergurun Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta itu, kenapa Al-Quran tidak diturunkan di Indonesia? “Karena masyarakat Indonesia cukup hanya dengan seorang ustadz (guru agama) saja semua bisa taat, patuh, berakhlak mulia, ramah, dan saling menghormati satu sama lain sebagai warga bangsa.
“Untuk itulah Indonesia menjadi perhatian yang luar biasa dunia internasional, karena toleransinya yang besar dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Padahal, Indonesia pendudukanya mayoritas beragama Islam, tapi damai dan tidak ada pertumpahan darah, dan apalagi saling membunuh seperti di Timur Tengah. Maka, itulah yang harus kita rawat bersama,” tutur Guru Besar UIN Syahid Jakarta itu.
Dengan demikian Nazaruddin mengajak kita semua untuk selalu bersyukur menjadi bangsa Indonesia, yang tidak keras kepala. “Sebagai bangsa yang besar ini kita bangga, dan ini harus dipelihara ,rawat, dan jaga bersama untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan,” pungkasnya.












