“Dalam konteks ini, masyarakat Tanjung Balik di daerah tujuan rantau harus memahami budaya, adat istiadat dan budaya yang di daerah tujuan rantau. Secara tidak langsung, mereka belajar budaya lain dan memahaminya. Secara otomotasi, Kwartab mendorong para anggotanya untuk membangun kerukunan baik kerukunan di daerah tujuan rantau ataupun juga kerukunan dengan nagari asal,” tegas Alumnus Lemhannas PPSA XXI ini.
“Bagi saya, kerukunan masyarakat rantau dari daerah lain tentu memiliki visi yang sama dalam membangun desanya masing-masing. Sehingga menurut saya, budaya gotong royong ini pantas digalakan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah asal masing-masing. Kesejahteraan masyarakat desa asal lambat terwujud jika hanya menunggu perputaran ekonomi yang berasal dari pemerintah,” jelas Carlo, yang Guru Besar Universitang Bung Hatta ini.
Menurut pemandangan Carlo, pola gotong royong melalui keterlibatan masyarakat rantau tidak dapat dilakukan secara tradisional. Masing-masing kerukunan atau paguyuban masyarakat rantau harus memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk secara presisi mengumpulkan data sumberdaya manusia, pemanfaat website sebagai pengenalan terhadap investor dan juga memperluas jaringan (networking).













