“Saya sudah berdagang 20 tahun, setiap menjelang Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan tahun baru, selalu menjual parsel. Penurunan terasa sejak ada larangan pejabat menerima parsel beberapa tahun lalu,” kata Tries, salah satu pedagang parsel, di Jakarta saat diwawancara.
Tries mengatakan saat ini dia dan beberapa penjual lain hanya bergantung pada masyarakat umum yang membeli parsel, kebanyakan untuk kerabat atau saudara. Ada pula beberapa perusahaan swasta yang rutin memberikan parsel untuk rekan bisnisnya.
“Berjualan parsel sekarang tidak seperti dulu. Belum lagi kekhawatiran kalau kami tiba-tiba dilarang berjualan di sini. Padahal, sejak dulu pedagang parsel menjadi ikon untuk Cikini,” tuturnya.
Hal senada diucapkan oleh Riyanti.
Meskipun hanya menjaga dagangan milik orang lain, Riyanti mengaku sudah lama berjualan parsel.
“Sehari cuma ada lima hingga enam orang pembeli. Ada yang langsung beli ada juga yang pesan dulu. Kalau dulu, sehari bisa sampai 20 orang,” katanya.
Terdapat berbagai macam jenis parsel yang dijual di kawasan tersebut, tepatnya di depan Stasiun Cikini.
Selain parsel berisi makanan dan minuman kemasan, juga ada parsel berisi barang-barang pecah belah dan kaligrafi.
***












