Lebih lanjut disampaikan, jika Jatim menjadi transit reekspor, produksi dan market di ASEAN lebih murah dan efisien dibandingkan jika diproduk dari New Zealand, pasar di ASEAN lebih mahal. Selain ke pasar ASEAN, New Zealand juga ingin melakukan perdagangan dari Jatim ke Sulawesi dan Kalimantan.“Kalau kolaborasi di Indonesia, akan lebih murah dan efisien daripada langsung. Semua ongkos jadi mahal untuk satu produk. Jatim dipilih karena efisiensi untuk pasar. Peluangnya New Zealand channeling dengan perusahaan-perusahaan AS,” kata Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim.
Pakde Karwo menjelaskan, Dubes New Zealand sangat setuju terhadap sektor agro, dari pasca panen akan di produksi setengah jadi. Ini satu keputusan yang bagus untuk investor, sehingga nilai tambahnya petani tentu ada.
Dalam kesempatan itu, Pakde Karwo juga memaparkan peluang investasi di Jatim antara lain adanya jaminan pemerintah (government guarantee) yang diberikan kepada investor, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, lokasi yang strategis, wilayah yang aman dan nyaman, potensial pasar yang besar, peluang dan kesempatan untuk berinvestasi, sumber daya manusia yang memiliki skill, infrastruktur yang baik.
Selain itu, Jatim menjadi logistik dan connectivity untuk Kawasan Timur Indonesia yang tidak hanya melayani perdagangan pada masyarakat Jatim, tetapi juga masyarakat Indonesia Timur yang jumlahnya sekitar 120 juta orang dari 19 provinsi, serta Kalimantan dan Sumatera.














