Boly juga mengingatkan para pelaku perubahan di negeri ini agar dapat menyaring arus globalisasi dengan menjaga, memelihara serta melestarikan adat tradisi. “Boleh rebutan kekuasaan, tetapi harus cerdas rasa dan budi. Kepekaan sosial, keperdulian, dan saling berbagi, itu yang sejalan dengan budaya kita. Bukan menang sendiri,” pungkas Boly.
Thomas Boly juga meminta semua kalangan, untuk selalu mengolah kecerdasan budi, mengolah rasa dan mengolah raga agar mampu membangun Nusantara ke arah yang lebih baik.
Secara terpisah, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra mengaku prihatin dengan perkembangan demokrasi di Indonesia saat ini. “Politisi kita belum mampu mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan kelompok dan kepentingan pribadi,” kata Yusril.
Menurutnya, seharusnya para politisi tersebut mampu mengedepankan musyawarah dalam memecahkan persoalan bangsa, bukan semata-mata main kuat-kuatan dengan voting. “Kembalilah kepada kepribadian bangsa yang mengedepankan kepentingan bersama dan menjunjung tinggi kemajemukan,” ujar dia.
Dia menegaskan, negara takkan pernah berjalan baik dan sempurna kalau dikuasai oleh satu golongan saja, baik di eksekutif maupun di legislatif. Kekuasaan harus berbagi secara adil dan berimbang. Semua harus diberi kesempatan untuk memimpin lembaga-lembaga negara secara proporsional. “Selamatkan bangsa dan negara dari kekacauan. Inti dari semua itu adalah, para politisi harus mampu menahan diri. Kedepankan kedewasaan berpolitik dan cari penyelesaian kompromi,” pungkasnya.













