Pendidikan gratis adalah salah satu wujud keinginan saya membangun Tapanuli Utara.
Di samping pembangunan infrastruktur, pembangunan sector pendidikan merupakan salah satu visi saya menjadikan Tapanuli Utara menjadi lumbung SDM yang berkualitas.
Mengingat Tapanuli Utara “bangso Batak”, dulunya adalah sumber orang-orang pintar, yang dapat diperhitungkan di negeri ini. Tetapi pada dekade terakhir ini, prestasi itu sudah mulai terkikis.
Di samping kemampuan akademis yang mulai menurun, etika, moral dan spiritual juga sudah mulai tergerus.
Hal ini menjadi PR bagi saya karena generasi yang cerdas secara akademis tanpa dibekali pendidikan etika dan moral yang baik, akan sia-sia.
Pembangunan sector pendidikan menjadi kompleks ketika melihat kemampuan masyarakat Tapanuli Utara untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Untuk itu, saya merasa terpanggil untuk mencanangkan pendidikan gratis yang telah dimulai pada tahun 2014 dari mulai tingkat SD-SMP, tanpa pungutan apapun.
Selanjutnya, pada Tahun 2015, saya telah gratiskan biaya pendidikan dari tingkat SD-SMA/SMK.
Saya mengharapkan kesempatan ini dimanfaatkan masyarakat semaksimal mungkin untuk bekerja lebih giat lagi. Biaya pendidikan untuk anak dari SD-SMA yang tadinya harus dibayarkan, sebaiknya ditabung untuk pendidikan anak di bangku kuliah kelak.
Sebaiknya tidak dihambur-hamburkan dilapo tuak. Untuk itulah, saya juga menghimbau agar lapo tuak di desa-desa terpencil dan sangat terpencil dibatasi jam buka hingga pukul 20.00 wib.
Usai bekerja dari ladang atau pekerjaan apapun, para bapak di desa terpencil masih memiliki waktu 2-3 jam dikedai untuk minum tuak segelas dua gelas, kalo memang itu kebiasaan yang sudah sulit dihilangkan.
Setelah itu, pulang kerumah berkumpul dengan keluarga, mengawasi anak-anak belajar dan mengerjakan. Budaya pendidikan seperti ini telah ada pada nenek moyang kita terdahulu yang pada akhirnya melahirkan anak-anak Batak yang displin, bermoral dan cerdas.
Hal inilah yang ingin kita gali kembali, budaya pendidikan yang telah diterapkan pendahulu kita, yang telah menciptakan orang-orang sukses yang telah diperhitungkan dikancah nasinal maupun internasional.
Di samping alasan diatas, faktor kesehatan juga menjadi alasan bagi saya untuk menghimbau pembatasan bukanya lapo tuak.
Nongkrong berlama-lama ditempat terbuka, dengan cuaca dingin hingga larut malam, bahkan mungkin belum sempat makan malam, tetapi banyak tuak masuk ke perut.
Dalam jangka waktu lama,otomatis itu akan merusak kesehatan.
Dengan kondisi sakit-sakitan, bapak-bapak akan banyak mengeluarkan biaya berobat, tidak bisa bekerja, sekolah anak tidak bisa lanjut lagi ke bangku kuliah, maka perekonomian kita akan kembali terperosok, kemajuan tidak akan kita capai.
Jadi tujuan saya akan himbauan lapo tuak adalah mulia, murni untuk kebaikan rakyat saya dan pencapaian program-program yang telah dicanangkan.
Himbauan pembatasan lapo tuak di desa-desa terpencil tidak ada hubungannya dengan café-café yang buka dikota. Kita sudah melakukan razia untuk cafe-café tersebut, selanjutnya ranah kepolisian untuk menertibkannya.
Kebijakan mulia ini juga mendapat pro dan kontra, tetapi itupun tidak menyurutkan saya ingin membangun Tapanuli Utara.
Saya akan tetap tegar walaupun badai tetap menghantam.
Perubahan
Harapan saya, masyarakat Tapanuli Utara akan menuju perubahan yang lebih baik dan tidak ada lagi segelintir orang yang menghasut demi kepentingannya.
Prioritas pembangunan di sector pendidikan dengan mengalokasikan dana yang jauh lebih besar untuk program-program pembangunan di Taput.













