BANDUNG – Komisi VII DPR RI menekankan pentingnya pengawalan menyeluruh industri tekstil nasional, mulai dari ketersediaan bahan baku, penyediaan SDM unggul, hingga pengelolaan limbah, guna mendorong terciptanya ekonomi yang berkelanjutan lewat industri hijau.
Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menyebutkan industri tekstil memiliki potensi besar sebagai penyumbang pendapatan negara, namun tantangan besar masih dihadapi, mulai dari ketergantungan pada impor bahan baku hingga rendahnya penerapan prinsip industri hijau di dalam negeri.
Menurut Novita, salah satu yang perlu perhatian adalah persoalan ketergantungan bahan baku tekstil dari luar negeri.
Di mana berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Indonesia masih mengimpor produk tekstil dari Tiongkok sebesar 2,19 ton atau setara dengan 8,94 miliar dolar AS.
“Masalah tekstil ini harus dikawal dari hulu sampai hilir. Bukan hanya peningkatan anggaran pendidikan vokasi seperti STTT, persoalan bahan baku harus jadi perhatian. Kalau kita diam dan terus bergerak lambat, industri dalam negeri akan semakin terjepit oleh tekanan barang impor. Kita harus tegas, jangan sampai industri dalam negeri terus berguguran,” kata Novita dalam kunjungan kerja spesifik ke Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung, seperti dikutip ANTARA, Senin (21/7),















