Menjelang berdirinya NU di Tahun 1926 ulama-ulama NU tampil mengkritisi pengaruh Wahabi di dunia dengan mengirimkan delegasinya ke Hijaz (Mekkah dan Madinah) yang populer disebut Komite Hijaz dan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya NU. Mereka memprotes Raja Ibnu Saud (ket: Raja Najed yang beraliran Wahabi) yang kala itu hendak menggusur makam-makam keramat seperti diantaranya makam Muhammad Rasulullah saw.
Dan kini setelah hampir satu abad aksi spektakuler ulama-ulama besar NU itu, generasi baru ulama-ulama NU kembali tampil ke depan untuk menghadapi gerombolan pengikut ajaran Wahabi yang sudah beranak pinak menjadi berbagai ORMAS seperti HTI di Indonesia.
Ini pertempuran politik dan ideologis terbesar sepanjang sejarah Indonesia setelah NU menghadapi pengaruh komunisme yang dipresentasikan oleh PKI di tahun 1965. Ini pertempuran politik dan ideologis paling rumit sepanjang sejarah perjuangan NU, karena kali ini virus Wahabisme telah merasuki kepala-kepala berbagai anak bangsa negeri ini yang tersebar di mana-mana, dan di masa menjelang PILPRES 2018 ini mereka telah berpenetrasi ke kubu salah seorang Capres-Cawapres, yang jika Capres-Cawapres itu menang maka Indonesia akan menjadi lautan pengikut Islam radikalis yang sangat mengerikan.














