Oleh: Ach. Taufiqil Aziz
Sekitar jam 17. 00, pada 9 Agustus 2018, kami sekeluarga masih menonton stasiun televisi tentang pengumuman Cawapres Jokowi. Di Televisi, beberapa stasiun dan pengamat sudah menganalisa bahwa Mahfud MD (MMD) yang akan menjadi cawapres. Inisial M dan tambahan bocoran dari Romahurmuzzy beberapa hari sebelumnya di Twitter bahwa Cawapres Jokowi adalah sosok yang paling punya pengalaman dalam segala jenis pemerintahan. Analisa beberapa pakar mengarah kepada MMD. Karena hanya beliau yang pernah di legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Hari itu, MMD sudah mengatakan bahwa dirinya memang diminta mendampingi Jokowi. Sebagai panggilan sejarah, MMD selalu siap untuk Indonesia. Ia diantar oleh beberapa orang menuju ke sebuah tempat makan tak jauh dari lokasi pengumuman Cawapres Jokowi.
Karena beberapa media TV sudah hampir memastikan bahwa MMD yang akan menjadi cawapres, saya dan keluarga segera mematikan TV. Dalam tradisi orang Madura, Maghrib menjadi waktu jeda untuk menonton TV. Apalagi malam jumat.
Saya sudah ancang ancang bikin tulisan tentang : Wahai Orang Madura, bersatulah untuk MMD. Ya, sebagai orang Madura, ikatan antar sesama orang Madura itu kuat. Seorang teman di pascasarjana melakukan penelitian dengan menggunakan teori inter feeling tentang orang orang Madura di perantauan, menemukan data bahwa orang orang Madura yang bertemu di perantauan memiliki ikatan batin yang kuat. Meski tak pernah kenal dan berjauhan, tapi saat bertemu seperti saudara. Sebagaimana lazim istilah taretan dhibik. Yang memiliki makna saudara sendiri.














