Belum tulisan itu dibikin, habis isyak saya terkejut, ternyata bukan MMD yang jadi cawapres. Tetapi Kiai Ma’ruf Amin. Saya memang tak meragukan kualitas Kiai Ma’ruf, tetapi dengan tak terpilinya MMD, kami sekeluarga dari Madura benar benar terkejut. Kok bisa ya?
Hingga dini hari, saya sulit istirahat. Pikiran selalu tertuju ke MMD. Saya cek di twitter, banyak tokoh yang menyayangkan tak terpilihnya MMD. Banyak yang kecewa. Tetapi respon MMD benar benar diluar dugaan. Demi keselamatan bangsa dan negara, beliau merasa tidak apa apa. Ia menunjukkan kelasnya sebagai negarawan.
Ada diri Gus Dur dalam diri MMD, saat jabatan tak lebih penting dari kemanusiaan. Pantas saja Gus Dur demikian percaya ke MMD. Sebagaimana kami, orang orang Madura yang selalu bangga atas diri MMD.
Ketika banyak politisi mengajukan diri menjadi cawapres, MMD tampak biasa saja. Tak ambisius. Tetapi siap jika merupakan panggilan sejarah. Hingga detak detik terakhir pengumuman cawapres, MMD menunjukkan kelasnya sebagai negarawan.
Meski tak menunjukkan ambisinya, terlalu banyak yang ingin menjegalnya. Saya termasuk menganggap biasa dalam dunia politik. Tetapi yang tidak biasa adalah saat Ketua Umum PBNU mengutarakan bahwa MMD bukan kader NU. Ini sangat menyakitkan bagi saya, Nahdiyin dan orang Madura sekaligus.














