Ini mengesankan sesuatu yang dipaksakan. Hanya karena menguatnya MMD sebagai cawapres menjadikan dirinya tak diakui oleh NU. Padahal jejak MMD di NU demikian jelas. Padahal juga, hadratussyaikh Hasyim Asy’ari bahwa siapapun yang mengurusi NU akan diakui sebagai santrinya. Pertanyaannya, kurang ngurus apa MMD kepada NU.
Mestinya pernyataan yang tepat, bukan karena MMD bukan kader NU. Tetapi karena bukan gerbong dari Ketua Umum PBNU hari ini.
Tapi lihatlah MMD. Ia tak pernah mengkounter serangan atas dirinya jika yang menyerangnya adalah NU. Beda saat dirinya diserang sebagai BPIP. Belau langsung menyerang PKS. Karena bagi beliau, tak cukup hanya menepuk satu atau dua nyamuk, ia langsung menyerang sarangnya.
Teladan penting dari MMD adalah ia tak pernah kehilangan cinta untuk Indonesia dan NU. Meski dirinya telah dikecewakan. Berkali kali. MMD memang tidak terpilih menjadi cawapres, tetapi ia telah menentukan pilihannya untuk tetap cinta kepada Indonesia.
Oase teladan MMD harus dijadikan sebagai mata air yang dapat menghilangkan dahaga dan kegersangan politik akibat SARA, ujaran kebencian dan menuhankan kekuasaan.
Penulis adalah fungsionaris PKC PMII Jatim














