Namun demikian, dalam kerangka “fiscal federalism” (Oates, 1972), desentralisasi fiskal akan efektif jika daerah memiliki insentif untuk bertanggung jawab atas sumber pendapatannya sendiri.
NTT memiliki sektor yang potensial seperti pariwisata, perikanan, dan energi terbarukan. Kawasan Labuan Bajo misalnya, telah menjadi destinasi super prioritas nasional dengan kunjungan wisatawan yang terus meningkat sebelum dan sesudah pandemi.
Jika obligasi digunakan untuk memperkuat infrastruktur yang langsung mendukung pendapatan daerah, misalnya sistem tiket elektronik, dermaga wisata, atau pengelolaan kawasan terpadu, maka peluang keberhasilannya lebih besar.
Namun untuk kabupaten dengan basis ekonomi pertanian subsisten dan tingkat kemiskinan tinggi, penerbitan obligasi perlu dikaji secara hati-hati. Jangan sampai ambisi kemandirian berubah menjadi tekanan fiskal baru.
Jalan Tengah
Di tengah peluang dan risiko yang menyertai obligasi daerah, pendekatan moderat menjadi pilihan paling rasional bagi Provinsi NTT.
Jalan tengah bukan berarti ragu mengambil keputusan, melainkan memastikan bahwa inovasi pembiayaan berjalan seiring dengan kesiapan fiskal dan kapasitas tata kelola daerah.
Pertama, memulai dari skala kecil dan proyek yang benar-benar memiliki arus kas terukur. Penerbitan obligasi sebaiknya tidak langsung diarahkan pada proyek besar yang kompleks atau penuh ketidakpastian.














