Dikatakan Muliaman, melihat laju pertumbuhannya, industri keuangan syariah akan mampu berkembang secara berkelanjutan, karena peran industri keuangan syariah semakin penting bagi perekonomian nasional dalam memenuhi permintaan masyarakat terhadap produk-produk dan layanan industri keuangan syariah, maupun untuk memenuhi kebutuhan pembangunan nasional.
“Terdapat hubungan timbal balik antara pengembangan industri keuangan syariah dengan kesejahteraan masyarakat. Kita meyakini bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, kebutuhan masyarakat terhadap produk dan layanan industri keuangan syariah akan semakin meningkat,” katanya.
Data OJK per 28 Februari 2017, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk Saham Syariah) mencapai Rp897,1 triliun dengan proporsi industri perbankan syariah mencapai sebesar Rp355,9 triliun, IKNB syariah sebesar Rp90,08 triliun dan pasar modal syariah mencapai sebesar Rp451,2 triliun). Dengan jumlah tersebut, jika dibandingkan dengan total industri keuangan, maka industri keuangan syariah sudah mencapai market sharesebesar 5,18%.
Aset Industri Keuangan Syariah Indonesia (per triliun rupiah)
| Jenis Industri | 2013 | 2014 | 2015 | 2016 | Feb 2017 |
| Perbankan Syariah | 248.11 | 278.92 | 304.00 | 365.03 | 355.88 |
| Asuransi Syariah | 16.66 | 22.36 | 26.52 | 33.24 | 34,28 |
| Pembiayaan Syariah | 24.64 | 31.67 | 22.35 | 35.74 | 37.07 |
| Lembaga Keuangan Non-Bank Syariah Lainnya | 8.25 | 12.25 | 16.03 | 19.69 | 18.66 |
| Sukuk Korporasi | 7.55 | 7.12 | 9.90 | 11.88 | 11.75 |
| Reksa Dana Syariah | 9.43 | 11.16 | 11.02 | 14.91 | 16.20 |
| Sukuk Negara | 169.29 | 208.40 | 296.07 | 411.37 | 423.29 |














