“Dengan berbagai program ini diharapkan akan semakin mendorong budaya menabung sejak dini. Nantinya setiap pelajar dan santri di Indonesia akan memiliki rekening tabungan,” ujar Tirta.
Dia memaparkan, ada tiga alasan utama mengapa inklusi keuangan menjadi krusial dalam pencapaian tujuan makroekonomi dan sekaligus menjawab tantangan perlambatan ekonomi akibat kondisi pandemi Covid-19.
Pertama, inklusi keuangan diyakini sejalan dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi dan meluasnya akses keuangan dapat mengurangi ketimpangan kesejahteraan masyarakat.
Kedua, inklusi keuangan bisa mendorong proses pemulihan ekonomi nasional, sebagai enabler kelancaran pemberian financial support bagi seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha, terutama yang sulit dijangkau sejalan dengan rilis Dana Moneter Internasional (IMF) di 2020 ini.
Peran inklusi keuangan yang ketiga, ujar Tirta, untuk mendukung resiliensi ekonomi masyarakat dalam segala situasi dan kondisi.
“Peningkatan kemampuan keuangan dan keterampilan pengelolaan keuangan yang solid dan mumpuni akan membantu masyarakat dan pelaku usaha bertahan dalam menghadapi tekanan ekonomi, dan memungkinkan mereka untuk lebih bersiap diri dalam menavigasi krisis keuangan yang sedang dan akan dihadapi,” tuturnya














